Kamis, 19 Februari 2015

DETIK PERUBAHAN BANGSA, PERAN PEMUDA MENJAWAB TANTANGAN AEC 2015 DALAM SEKTOR SOSIAL DAN EKONOMI


ini essay telat ngepostnya, dibuat saat ikut seleksi Pelatihan Pemimpin Bangsa 8 (PPB#8) di Yogyakarta, dan Alhamdulillah Lolos ....

Oleh Sherly Damayanti
Globalisasi merupakan suatu bentuk proses skala kehidupan yang multidimensional dari perwujudan lokal yang kemudian nasional ke skala yang baru (internasional). Gagasan utama dari globalisasi ialah membuat dunia menjadi seragam dalam segala aspek, baik dalam aspek ekonomi, sosial, budaya maupun ilmu pengetahuan. Salah satu pengaruh dari adanya globalisasi ini adalah dengan banyak munculnya rezim internasional atau lembaga internasional.
The Association of South East Asian Nations (ASEAN) yang telah berusia lebih dari empat dekade, dari tahun ke tahun berusaha meningkatkan integrasi kerjasama antar negara anggota ASEAN. Cetak biru (blueprint) tentang pembentukan Masyarakat ASEAN yang salah satunya berpilar pada ekonomi, yaitu ASEAN Economic Community (AEC), telah disepakati oleh negara anggota ASEAN dalam Bali Concord II tahun 2003. ASEAN Economic Community merupakan sebuah komunitas negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN demi terwujudnya ekonomi yang terintegrasi. Negara – negara yang tergabung dalam AEC memberlakukan system single market dalam artian terbuka untuk melakukan perdagangan barang, jasa, investasi, modal dan tenaga kerja. AEC direncanakan terbentuk pada tahun 2015. Terbentuknya AEC yang direncanakan terwujud pada tahun 2015, memiliki masalah dan tantangan sendiri bagi negara yang berada di kawasan Asia Tenggara.
Tantangan utama dari bangsa Indonesia sekarang adalah Sumber Daya Manusia yang mampu untuk mencapai visi 2025 dan bagaimana mempersiapkan stabilitas ekonomi, politik dan daya saing untuk menghadapi AEC 2015. SDM yang dianggap sebagai pilar utama dalam menghadapi arus globalisasi kedepannya diharapkan dari mahasiswa. Mahasiswa harus mengubah mindset, bahwa sejak AEC diberlakukan mereka bukan sekadar warga Indonesia, tapi menjadi bagian warga dunia yang harus mampu sejajar dan tidak kalah disandingkan dengan Myanmar, Thailand, Malaysia, Singapura, Brunai Darussalam, Philipina, Laos, Kamboja, dan Vietnam. Dalam menjawab tantangan kompetensi global, mahasiswa perlu membekali diri dengan beberapa hal yakni kompetitif “hard skills” dan “soft skills”, mampu berkolaborasi dengan mahasiswa ASEAN lain dengan riset bersama untuk menghasilkan karya-karya bermutu. Serta mampu menjadi pelopor di dalam menjaga kedaulatan bangsa dan negara di bidang ekonomi dengan menjadi job creator bukan job seeker.
Mahasiswa dengan fungsi triangular role yaitu sebagai agent of change, social control dan iron stock, dapat menjadi perantara antara pemerintah, pelaku bisnis dan akademisi (ABGs) dengan masyarakat bawah untuk menerjemahkan kebijakan pemerintah, kebutuhan pelaku bisnis dan hasil-hasil penelitian dari akademisi baik dalam bentuk pengabdian masyarakat maupun dalam bentuk pengajaran kepada masyarakat. Di sinilah peran penting mahasiswa untuk memberikan pemahaman tentang perkembangan global (AEC 2015) kapada masyarakat lapisan bawah dengan tingkat pendidikan yang masih rendah. Mahasiswa dianggap sebagai kaum terdidik yang mampu menjadi penggagas sekaligus penggerak perubahan dalam kehidupan sosial. Peran mahasiswa bukan hanya pada aspek sosial yang menjadi penggerak perubahan kehidupan sosial akan tetapi mahasiswa juga turut berperan dalam perputaran aspek ekonomi termasuk dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN. Kolaborasi yang dilakukan adalah kolaborasi antar pemuda se-Asia Tenggara yang menggunakan intelektualitasnya. Melalui intelektualitas ini yang dilihat tentunya adalah kecerdasan dan penguasaan wawasan keilmuan. Ilmu dan wawasan yang dimiliki selain akan memperluas cakrawala pandangan, juga memberikan bekal teoritis maupun praktis dalam pemecahan suatu masalah. Sebagai generasi muda, tentunya para pemuda ASEAN ini merupakan ladang utama orang-orang yang mempunyai daya kreatif tinggi. Pemuda yang berilmu penggetahuan luas menyukai hal-hal baru, bersemangat juang tinggi, berpikiran kritis, dan berkepedulian sosial yang tinggi, ini merupakan agen yang mampu mengembangkan perekonomian di negara-negara ASEAN. Pemuda (mahasiswa) yang telah berani berwirausaha membuktikan bahwa usaha yang dilakukan mereka dapat membuahkan hasil yang manis karena selain menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain, menambah pengalaman diri sendiri, juga dapat memotivasi para pemuda lain untuk melakukan hal yang sama. Sebagai elemen bangsa dengan potensi pemikirannya tentu besar sekali peran dan fungsinya, misalnya dengan mengadakan penelitian-penelitian, membuat karya tulis di berbagai media, atau seminar-seminar dalam rangka mencari solusi bagi bangsa dan negara untuk menuju kesuksean ASEAN Economic Community 2015.
Dengan adanya penelitian yang dilakukan oleh pemuda (mahasiswa) diharapkan mampu membantu pemerintah maupun masyarakat umum baik kalangan pebisnis yang mempunyai andil cukup besar dalam perekonomian AEC maupun bagi masyarakat umum ASEAN untuk mengetahui hal apa saja yang perlu dibenahi baik dari segi infrastruktur maupun suprastruktur. Penelitian ini tentunya akan sangat bermanfaat bagi pemerintah itu sendiri karena adanya keterbatasan waktu yang menyebabkan pemeritah belum mampu secara rinci  untuk mengetahui apa-apa saja yang diperlukan oleh masyarakat dalam menghadapi AEC terutama bagi masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Selain itu nantinya pemuda juga akan menjadi pengontrol pemerintah dalam melakukan suatu kebijakan, selain itu pemuda diharapkan kemudian mampu untuk memberikan masukan-masukan dari atas penelitiannya itu terhadap pemerintah.
Peran lain yang tidak kalah penting yang harus diselesaikan mahasiswa adalah mempunyai spesialisasi dari pribadi masing-masing. Spesialisasi mahasiswa akan menjadi jawaban tentang tantangan untuk menghadapi arus global akibat teknologi infomasi yang berkembang pesat. Revolusi teknologi informasi inilah yang menjadikan pembuktian nyata kita bukan lagi hanya sebagai warga Indonesia tetapi kita adalah warga dunia. AEC 2015 datang sebagai peluang dan sekaligus sebagai tantangan bagi kita. Akankah kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri atau menjadi pemain sebagai host country dengan adanya AEC 2015 ?

This’s about a Traveller: Belajar dari Negeri Matahari Terbit


kalo lagi hobby moodnya baik ya gini kalo lagi suka buat essay tiap hari ada aja yang bakal jadi inspirasi :) ...

                                                     oleh Sherly Damayanti
Pemikiran ini berawal dari sebuah pertanyaan sederhana, “Traveler sejati itu yang kayak gimanasih?” Dulu aku hampir pasti akan berpikir bahwa traveler sejati adalah yang sering sekali traveling (ke tempat wisata), bahkan mungkin dia selalu berkelana dan jarang pulang ke rumah. Sampai akhirnya aku sadar, bahwa itu tidak sepenuhnya benar. Tentu kita semua tahu bahwa “traveler” berasal dari kata “travel”, yang oleh Wikipedia diartikan sebagai, “Travel is the movement of people between relatively distant geographical locations….” Sementara “traveler” berarti seseorang yang melakukan perjalanan dan “melakukan perjalanan” biasa disebut dengan “traveling”.

Noob question: “Di bagian manakah dari definisi tersebut yang menyebutkan bahwa traveling itu harus pergi ke tempat (atau untuk tujuan) wisata?” Aku yakin tidak ada dan tidak akan pernah ada, karena sejatinya traveling hanya berarti “melakukan perjalanan” tanpa peduli tempat apa yang kita tuju dan untuk tujuan apa.
Akhir-akhir ini makin banyak orang yang menyebutku sebagai traveler sejati, cuma karena aku sering traveling. Makin banyak pula yang menisbatkan diri sebagai traveler sejati cuma karena ia telah banyak keliling berbagai daerah atau negara. Se-simple itu kah? Jika memang se-simple itu, maka yang paling pantas dinobatkan sebagai traveler sejati adalah ? Hmm…

Aku masih sangat kecil kala itu, tahun kedua di sekolah menengah pertama. Pada pelajaran Bahasa Indonesia, kita semua ditugaskan untuk menuliskan karangan tentang harapan dan cita-cita saat besar nanti. Sungguh aku benci dengan pelajaran mengarang. Aku bukanlah sosok dengan sejuta kata-kata yang mampu menuntaskan aksara dengan sempurna. Tanganku lebih lihai mengaduk warna dan menatanya di atas kanvas, bukan menderetkan huruf rapi di atas kertas. Sebagai pengganti karangan, kulukiskan cita-cita lewat gambar, menggoreskan gradasi  pensil menjadi gambaran hitam dan putih. Waktu itu aku menggambar kapal-kapal besar penjelajah. Cita-citaku menjadi mereka, selalu mengarungi dan menyinggahi setiap sudut dunia. Aku kerap membayangkan sedang berdiri di depan geladak sambil memegang sebuah binokular. Memandang daratan nun jauh di seberang sambil berkata “Dua hari lagi kita sampai.” Persis bagai Columbus saat menemukan Amerika pertama kali.

Sebagai pengganti pula, aku dimarahi sejadi-jadinya, ujung rambutku ditarik sakit sekali. Setelah itu dihukum berdiri didepan dengan kaki terangkat sebelah. Gambar yang kugambar digantung di leher, isak tangisku parau menggantung di tenggorokan. Hukuman nampaknya tak menjadikan guruku puas. Anak nakal yang malah menggambar di pelajaran bahasa Indonesia ini diceramahi tentang macam-macam. “Mau jadi apa kau kelak? Indonesia tak butuh seniman. Belajar saja yang rajin sebab seni disini tak dihargai.” Memang sepertinya semua orang selalu (merasa) lebih tau bagaimana orang lain harus hidup.

Berawal dari sebuah pencarian jati diri kaki ini perlahan-perlahan melangkah menyusuri jejak-jejak  kehidupan yang penuh dengan 1001 tanda tanya. Tidak ada satupun bayangan yang terbersit di Otak ku tentang petualangan yang aku jalani ini. Disaat senja  yang begitu indah,Tapi terkadang sangat membosankan. Sering aku menanti datangnya malam yang menjanjikan berjuta mimpi-mimpi dan harapan-harapan dibalik hitam pekatnya langit malam. Bahkan terkadang sering aku habiskan malam tanpa mimpi-mimpi yang membuat aku terlena,hanya untuk mencari atau membuka tabir misteri dari kensunyian malam seorang diri. Dan ketika pagi telah menjemput aku pun selalu bersiap-bersiap mewujudkan segala mimpi dan harapan-harapan ku yang tercipta dimalam hari walaupun  terkadang hanya berujung menjadi kesedihan dihati. Lelah memang yang aku rasakan dan terkadang rasa penatpun hinggap di Otak dan jiwaku yang akhirnya menuju kepada sebuah titik kejenuhan.

Keliling dunia benar benar menjadi Liburan Impianku saat ini. Liburan keliling dunia, menjadi mimpi terbesar dalam hidupku sekaligus mimpi yang hampir mustahil untuk aku gapai saat ini. Melihat ekonomi keluarga yang pas-pasan, sekaligus melihat studi pendidikanku yang belum terselesaikan, membuatku gentar akan mimpiku yang begitu tinggi. Namun aku tetap percaya, dan terus percaya bahwa suatu saat mimpiku keliling dunia akan segera terwujud meskipun itu akan terwujud entah kapan.

          Traveling itu identik dengan mengunjungi sebuah objek wisata, belanja oleh-oleh, dan sibuk posting foto di Instagram untuk menunjukkan “I’m here!”. Sebagai seorang traveler, aku ingin sekali mencoba sesuatu yang baru dalam perjalananku menjelajahi suatu tempat. Tentu jenuh rasanya jika mengikuti sebuah grup tur yang mengharuskan aku mengikuti pola 5-6-7 alias jam 5 morning call, jam 6 breakfast, dan jam 7 berangkat!

Pergi traveling secara mandiri pun demikian. Memang tidak ada orang yang memaksa kita bangun pagi dan kita bebas menentukan acara. Membaca peta dan mengunjungi sebuah objek wisata memang menyenangkan awalnya. Tapi jika terus menerus demikian di semua tempat, rasanya kesan wisata seolah hanya mengambil foto dan suasana. Tidak ada kesan yang terlalu istimewa atau mendalam dari sebuah wilayah, kecuali mengatakan “bagus” dan “tidak bagus”.

Aku ingin sekali traveling dengan menjadi anak angkat di Jepang. Boleh dikatakan aku ingin sekali tersesat di sebuah daerah kecil di Jepang dan tinggal bersama penduduk setempat. Aku ingin melihat, merasakan, dan mengerjakan apa yang dikerjakan orang Jepang asli di pedesaan mengingat bangsa ini mempunyai kultur yang sangat kental. Seru rasanya tinggal dan tidur beralaskan tatami yang sederhana. Mencoba belajar bahasa Jepang dan tata krama yang ada lewat kehidupan sehari-hari. Mengikuti ritme kehidupan yang dipenuhi kerja keras, kesopanan, tepat waktu, dan tradisi yang kuat. Jalan-jalan bersama orang Jepang sebaya melihat wisata yang ada dari perspektif orang lokal, serta mandi bersama di onsen. Rasanya aku seolah dilahirkan kembali alias reborn sebagai orang Jepang dengan fisik orang Indonesia yang mampu mengenali budaya Jepang secara menyeluruh.

Aku percaya bahwa traveling adalah sebuah perjalanan sakral untuk menemukan diri. Melihat siapa jati diri kita sesungguhnya tanpa topeng kepura-puraan. Traveling itu menjadikan kita pribadi yang kaya akan pengalaman dan membentuk kita menjadi pribadi yang kuat. Berjalan ke suatu tempat, melihat dan merasakan hal-hal baru dan bertemu orang baru. Keluar dari comfort zone dan berusaha survive di tempat asing. Traveling membuat kita sadar posisi kita dan pengaruh tindakan kita pada alam. Beruntung jika kita bisa memberi pengaruh positif bagi orang-orang di sekeliling. Inilah yang paling aku suka saat traveling, belajar banyak hal. Singkatnya, traveling make me feel better, stronger and faster.

Impianku untuk dapat berdiri tegak di Negara yang terkenal dengan sebutan Negeri Sakura atau Negeri Matahari Terbit begitu menyiksa Logika. Banyak tempat yang ingi aku kunjungi sebagai destination selain Hokaido dan Tokyo salah satunya adalah daerah Chughoku. Chugoku merupakan Alam dan sejarah di bagian barat Pulau Honshu, Wilayah Chugoku ditandai dengan desa-desa dan kota-kota yang kecil tetapi tenang dan indah. Desa nelayan di tepi laut dan perkampungan di pegunungan. Inilah tempat yang harus dikunjungi jika ingin mencari pemandangan yang penuh nostalgia dan suasana terbaik dari Jepang pada masa lampau. Prefektur Okayama dengan taman dan pemandangan kotanya yang indah, Hiroshima kota sejarah dan budaya  dimana Dua puluh lima menit menggunakan kereta api dari Hiroshima dan 10 menit menggunakan kapal dari Miyajima-guchi akan membawa Anda ke Pulau Miyajima dan Kuil Itsukushima, tempat yang wajib dikunjungi. Keseluruhan pulau, dengan luas 30 km2, ditunjuk oleh pemerintah sebagai Special Historic Site (Situs Bersejarah Penting) dan Special Place of Scenic Beauty (Tempat Terindah yang Penting). Bangunan kuil dihubungkan dengan koridor-koridor yang membentang di atas air laut, sehingga saat air pasang, seluruh bangunan seperti mengapung di laut.. Selanjutnya Kota Samurai Hagi yang merupakan tempat kelahiran banyak samurai penting yang memimpin peristiwa-peristiwa yang mengakibatkan Restorasi Meiji serta Tottori Sakyu (Bukit Pasir Tottori) yang merupakan salah satu dari tiga bukit pasir utama di Jepang.
Impian ini begitu besar penuh dengan harapan dan cita-cita. Aku percaya dengan istilah “the power of dreams, I have many dreams, I believe it can make a real dreams ..’’

Referensi :
Website :


Sang Petualang : Melukis Jejak Impian di Negeri Matahari Terbit


lagi seneng banget bikin essay apalagi yang nyeritain soal destination dan mimpi ... :)
Oleh Sherly Damayanti

Jika kita pernah menyaksikan jejak petualangan seseorang yang ditayangkan di televisi, maka seolah kita sedang menyaksikan sebuah roda kehidupan ini. Betapa hidup sebenarnya adalah kerja keras yang bertujuan untuk mendapatkan kesuksesan. Tentu saja dengan melakukan hal-hal yang terbaik yang bisa kita lakukan. Seorang petualang akan melakukan hal apa saja demi mencapai sebuah tujuannya.

            Hallo pulau-pulau impian saya! Dunia imajinasi! Sub-sub dunia lain yang tak kalah indahnya. Impian yang memuat cerita-cerita lanjutan perjalanan hati di tahun ini. Dimana masih ada beberapa tempat yang belum terwujud di lintas alam bumi ini. Namanya Sherly Damayanti atau biasa dipanggil Sherly. Selayaknya seorang pemimpi sejati yang mempunyai mimpi besar, seseorang yang selalu bersemangat dan berusaha dalam meraih sebuah impian walaupun terdengar mustahil tuk tercapai. Karena sejatinya semua kembali kepada persepsi kita, apakah kita akan berhasil menggapai mimpi atau gagal . Secercah harapan disambut dengan segenggam keyakinan disertai dengan tindakan nyata akan semakin mendekatkan kita kepada mimpi yang selama ini kita impikan.

Begitu banyak yang membuat saya berdecak mengenai keindahan alam ciptaan dan anugerah Tuhan "betapa kayanya dunia ini". Yang dimana Sang Maha Pencipta seolah telah memberikannya tanpa pamrih mulai dari potensi alam yang berlimpah ruah hingga adat istiadat dan budaya. Menjadikan diri saya sangat sulit untuk membingkai ekspresi dan ungkapan diri agar tidak terpesona serta tidak bepergian ke tempat-tempat yang berpredikat sebagai surga dunia. Meneror terus-menerus alam bawah sadar ini. Namun, konon untuk mewujudkan impian, kita harus sering memikirkannya. Akhirnya selalu berujung di tempat tidur, memutuskan untuk bermimpi saja, berharap impian-impian itu menjadi nyata, walaupun itu hanya sekadar di alam mimpi. Kendati bukan yang pertamakali saya rasakan, namun kerinduan ini cukup menyiksa, layaknya timetable. Hidup saya seolah telah dilukiskan untuk melengkapi, berbagi waktu, pengalaman serta untuk menjelajahi setiap jengkal dunia. Untuk menemukan sumber-sumber kebaikan dari alam, dari beragam suku dan ras. Dan hal-hal diatas itu mengerucut menjadi pertanyaan. Apakah ini impian ataukah ekspresi diri?

Traveling bukan lagi tentang destinasi, bukan hanya tentang kesenangan dan kebanggaan diri, melainkan sebuah proses memperkaya hati, proses menenangkan diri, sebuah perjalanan spiritualitas panjang. Kini, di tengah kompleksitas keberagaman pariwisata dan budaya di dunia ini...

“Saya ingin terus merasakan bagaimana menjadi kaum minoritas. Saya ingin belajar tentang bagaimana cara berinteraksi dan cara menghormati penganut agama lain. Saya ingin merasakan bagaimana rasanya hidup di sebuah pulau terpencil. Saya ingin berkelana dan mengenal lebih banyak lagi harta karun-harta karun pariwisata dunia. Tak lagi hanya sebagai destinasi wisata impian, melainkan akan menjadi sarana berkontemplasi banyak hati dengan penduduk sekitar dalam pencarian jati diri, mencari jawaban atas banyak pertanyaan hidup.”

Di saat seperti ini, di saat saya mengalami hal-hal indah maupun kerinduan dalam traveling, saya selalu ingin menuangkannya dalam tulisan. Karena sebagai travellers, kata impian dan wisata seperti tak bersekat, seperti angin yang tak terlihat namun terasa. Seperti pelangi dan udara, walau terlihat terpisah namun mereka satu.  Bagi seorang dreamer seperti saya, mimpi itu adalah penyemangat hidup dan sebagai muslim sejati, saya hanya perlu mengimaninya. Mengimani kalau Tuhan itu maha baik dan tentunya mengimani mimpi saya sekuat hati. Ya, ketersinambungan itulah yang saya sebut "mimpi dengan benar". Namun herannya kenapa masih banyak orang yang ragu bahkan takut

Salah satu dari 200 mimpi yang saya tuliskan yaitu berdiri tegak di Negara yang terkenal dengan sebutan negeri matahari terbit. Siapa yang tak kenal dengan negara jepang, negara yang identik dengan bunga sakura, teknologi-teknologi canggih dan rakyatnya yang super ramah. Perkenalan saya dengan negara maju yang satu ini mungkin sudah sejak saat saya kecil, selanjutnya perkenalan dengan negara Jepang identik dengan kekejamannya waktu belajar di pelajaran sejarah saat masa-masa sekolah. Tapi berbalik dari semua itu yang awalnya saya sedikit dendam dengan yang namanya Jepang berubah menjadi sebuah ketertarikan hanya karena ada serial-serial anime dan kartun yang ditanyangkan di pertelevisian Indonesia, sebut saja Detektif Conan, Chibi Maruko Chan dan Captain Tsubasa. Itulah anime yang mampu menghipnotis saya dan merubah notebenenya benci menjadi sebuah ketertarikan terhadap negara Jepang. Dari sini dimulailah untuk tahu lebih jauh tentang negara Jepang, dan sekarang akhirnya tahu betapa inginnya diri ini untuk pergi ke negara matahari terbit tersebut. Jepang yang terkenal dengan teknologi yang tinggi, produsen barang elektronik terbesar di dunia mungkin jepang terkesan mahal atau sangat mahalnya untuk dijangkau. Sebagai seorang traveler tentulah akan menempatkan Jepang sebagai daftar kunjungan terbawah, mending ke Singapura atau Australia pasti jauh lebih murah.

                Namun alasan tersebut tidak berlaku bagi saya. Banyak yang menanyakan mengapa saya memilih jepang untuk menjadi salah satu destination  favorit dari lima Negara (Mekkah, Belanda, Jerman, Jepang, dan Turki) yang ingin saya kunjungi padahal masih banyak Negara-negara lain yang mempunyai panorama wisata yang lebih indah. Alasannya bukan karena panorama yang indah saja tapi, karena jepang berhasil menyatukan antara kebudayaan dan teknologi. Dan masyarakatnya yang terkenal juga ramah meski terkadang mereka tak mengerti bahasa yang kita gunakan.
Ini sebenarnya merupakan kelanjutan impian untuk berkeliling dunia. Ada ribuan keindahan yang rasanya mustahil dan takkan puas kita reguk dalam tempo singkat. Sekarang, berbagai usaha untuk mewujudkan impian, terus di lakukan, mulai dari menabung, berhemat, serta tentunya memprioritaskan penjadwalan keberangkatannya dengan trik perpaduan rahasia. Nah, tak lengkap rasanya jika bercerita tentang impian, tanpa berbagi ilmu pengetahuan sekaligus mengupas keunikan dan keistimewaan dari beberapa destination di jepang, tentunya yang hingga saat ini masih menjadi "harta karun" di tengah begitu ramainya ragam pariwisata jepang, antara lain:

Tokyo
Tokyo – kota metropolis paling menarik di Asia. Di sini, tradisi dari berabad-abad lalu berdampingan dengan elemen budaya perkotaan terkini yang terus bergerak memancarkan semangat dan energi spesialnya sendiri. Di sebelah barat Stasiun Tokyo terdapat Marunouchi, sebuah kawasan bisnis terbesar di Jepang. Cukup dengan 10 menit berjalan kaki, Anda akan tiba di kawasan Ginza, yang terkenal di seluruh dunia sebagai tempat perbelanjaan mewah dan lampu-lampu neonnya yang terang dan indah. Teater Kabukiza sangat dekat dari situ. Dari keramaian lampu neon di kawasan Ginza dan Yurakucho, kita berpindah ke kawasan Ueno yang luas di mana Anda akan menemukan Taman Ueno, yang terbesar di kota ini. Pada awal bulan April, taman ini berubah menjadi surga penuh bunga sakura berwarna merah muda, hingga menarik banyak orang yang ingin melihat dan merayakannya. Taman ini menjadi pusat seni dan budaya yang luar biasa dengan museumnya yang banyak dan beragam. Selain itu, Untuk mengetahui sekilas masa lalu Tokyo, kawasan Asakusa adalah tempatnya. Di sini terdapat banyak gang sempit dengan jajaran bangunan dan toko tua yang menjual barang-barang tradisional mulai dari kimono hingga sisir buatan tangan. Kuil Asakusa Kannon, dengan lorong perbelanjaannya yang penuh warna, merupakan tempat yang sangat tepat untuk membeli suvenir. Tokyo Skytree mudah diakses dari wilayah ini.
Kanto
Kanto terdiri atas daerah metropolitan Tokyo dan sekitarnya, dengan total 6 prefektur. Banyak daerah tujuan wisata menarik yang bisa dinikmati dari Tokyo plus 1 hari. Tentunya wisata yang saya pilih adalah gunung Fuji? Kenapa karena dari alam saya belajar. Menjadi Perempuan gunung menorehkan cerita sendiri. Gunung Fuji dengan tinggi 3.776 meter, tidak hanya menjadi gunung tertinggi di Jepang, tetapi juga simbol Jepang yang paling terkenal. Selain menjadi tempat pendakian favorit selama bulan Juli dan Agustus, Gunung Fuji merupakan pusat wilayah rekreasi alam yang luas. Termasuk di dalamnya kawasan Fuji Five Lakes (Lima Danau Fuji) di sebelah utara, yang memberikan kesempatan luas bagi Anda untuk mendaki, berpesiar dengan perahu, memancing, berkemah, dan berpiknik. Gunung Fuji didaftarkan sebagai warisan budaya dunia

Chughoku
Beralih ke harta karun Pariwisata jepang selanjutnya yaitu berada dikawasan Chughoku. ilayah Chugoku ditandai dengan desa-desa dan kota-kota yang kecil tetapi tenang dan indah. Desa nelayan di tepi laut dan perkampungan di pegunungan. Inilah tempat yang harus dikunjungi jika ingin mencari pemandangan yang penuh nostalgia dan suasana terbaik dari Jepang pada masa lampau. Salah satunya yaitu Hiroshima, bekas kota benteng, dapat dicapai menggunakan Shinkansen super express dalam waktu 1 jam 40 menit dari Shin-Osaka. Kota yang sekarang tumbuh dari abu bom atom Perang Dunia II. Peace Memorial Park (Taman Monumen Perdamaian) yang didalamnya terdapat Peace Memorial Museum (Museum Peringatan Perdamaian) yang memamerkan banyak koleksi foto dan benda-benda yang terkait dengan penghancuran kala itu. Di sini, Peace Flame (Api Perdamaian) menyala di depan Memorial Cenotaph (Tugu Peringatan), dan tidak akan dipadamkan hingga semua senjata nuklir dilenyapkan.  Di Taman Peringatan Perdamaian terletak Genbaku Dome (monumen perdamaian Hiroshima), yang didaftarkan sebagai warisan budaya dunia pada tahun 1996 yang merupakan tempat bersejarah yang menyampaikan tragedi perang.

Dua puluh lima menit menggunakan kereta api dari Hiroshima dan 10 menit menggunakan kapal dari Miyajima-guchi akan membawa Anda ke Pulau Miyajima dan Kuil Itsukushima, tempat yang wajib dikunjungi. Keseluruhan pulau, dengan luas 30 km2, ditunjuk oleh pemerintah sebagai Special Historic Site (Situs Bersejarah Penting) dan Special Place of Scenic Beauty (Tempat Terindah yang Penting). Bangunan kuil dihubungkan dengan koridor-koridor yang membentang di atas air laut, sehingga saat air pasang, seluruh bangunan seperti mengapung di laut. Sebuah gerbang kuil, torii dari kayu kamper yang berwarna merah yang seperti muncul dari laut, merupakan penanda tanah kuil Shinto ini. Banyak festival-festival penuh warna diadakan di sini sepanjang tahun, tetapi yang paling dramatis adalah Kangen-sai yang diadakan pada bulan Juli atau Agustus. Pada acara ini, Dewa Itsukushima (berbentuk mikoshi) dibawa dengan perahu untuk mengunjungi kuil-kuil lain di daratan dan kemudian kembali lagi. Musik sakral dimainkan dengan alat musik Jepang kuno. Kuil Itsukushima didaftarkan sebagai warisan budaya dunia pada tahun 1996.

Referensi :
Website :

Jumat, 05 Desember 2014

Tulisan : Mencari Sahabat


Dalam perjalanan hidupnya. Tidak setiap orang bertemu dengan teman dekatnya, yang karena dekatnya lalu disebut sebagai sahabat. Bertanya-tanya mengapa orang lain memiliki sahabat sementara dia sendiri tidak.
Lalu, ia mencari tahu sendiri pertanyaannya. Apa benar sahabat itu benar-benar ada atau tidak. Bila ada, mengapa ia tidak memilikinya. Ia merasa tidak dekat dengan siapapun, bilapun orang lain merasa dekat. Ia merasa biasa-biasa saja.
Ia tidak tahu kepada siapa bisa bercerita. Tidak tahu kepada siapa hendak pergi bersama. Merasa begitu tenang sendirian, karena terbiasa sendiri. Merasa tidak suka diusik, meskipun ingin sekali bercerita. Tapi kepada siapa.
Ia tidak pernah merasa sangat dekat kepada siapapun. Setiap kali kakinya melangkah, matanya menangkap perasahabatan orang lain. Mendengar dari kata-kata teman. Dan ia tidak pernah memilikinya.
Ia hidup sendiri. Merasa sendiri dan begitu mencintai kesendiriannya. Meski pada saat yang sama dia bertanya-tanya. Siapakah yang sanggup menembus hatinya.
Ia sendiri tidak tahu, apakah dia yang memiliki tembok yang tinggi atau orang lain yang membatasi dirinya. Ia merenungkan arti persahabatan dari orang-orang. Ia tidak tahu. Orang datang silih berganti di dalam hidupnya, tidak pernah ada yang benar-benar tinggal lama. Sebagai teman baik.
Ia menanyakan pada dirinya. Apa yang sebenarnya ia butuhkan. Sebab apa ia memiliki batas yang begitu tinggi. Sampai kapan ia akan menutup diri. Sampai kapan ia akan memberikan kepercayaan kepada orang. Mungkin cukup kepada satu orang, teman hidup. Sahabat yang mungkin hanya akan ada satu saja sepanjang hidupnya.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Surabaya, 05 Desember 2014
aku bersyukur. karena kalian selalu memberikan pembelajaran dan pengalaman yang berarti, memberi warna sejatinya kehidupan ini. terimakasih atas segala sesuatunya ...
dunia ini milik kita, merangkul bersama menggapai impian, menghempas asa ...