Rabu, 01 April 2015

21st for me #Latepost

Happy birthday to you ..
happy birthday to you ...
happy birthday, happy birthday ...
happy birthday to you ...

Selamat ulang tahun, 21 tahun telah berada di bumi Tuhan entah apa yang telah diri ini lakukan. sungguh mungkin begitu banyak kesalahan yang disengaja sehingga membuat banyak orang terluka karena keegoisan. tak lupa rasa syukur akan setiap nikmat yang telah diberikan oleh-Nya begitu indah, begitu anugrah ...

waktu terus berjalan bersama semilir angin tak terasa dulu masih belia sebagai peri kecil, kini diri ini telah tumbuh menjadi remaja. remaja yang seperti apa? hanya orang yang berhak menilai.

Hari ini, 01 Februari 2015 akan kuingat sebagai hari pendewasaan diri ...
mulai melangkah lebih jauh, banyak hal yang berubah ada yang tiba, ada yang hilang, ada yang datang, ada pula yang pergi ...
adegan per adegan pun berjalan silih berganti. tentang siapa-siapa yang memang benar-benar tulus, ternyata aku banyak salah dalam menilai orang. pertanyaan-pertanyaan selama ini, memang ternyata waktulah yang menjawabnya. sebagian besar sisa pertanyaan yang belum terjawab, maka akan aku kembali serahkan kepada Allah dan waktu seutuhnya. biarlah mereka yang menjawab ...

Alhamdulillah, begitu banyak kesempatan pembelajaran dan pengalaman yang berarti dalam menapaki perjalanan hidup ini...
meski duka dan lara tak kunjung berhenti menghampiri, canda dan kebahagianpun tak berhenti menghiasi menggoreskan senyuman ...

terimakasih untuk orang-orang hebat yang beberapa waktu ini telah mengisi ruang untuk menuliskan cerita dan kisah baru tentang jejak pertualangan hidup ini ....

31 Januari 2015, pukul 00.05 WIB
malam ini entah sulit untuk tidur karena memang banyak deadline tugas yang harus dikerjakan, lupa akan hari bahagia terlahir kedunia ini. tak sadar ternyata temen-temen satu kosan bersama sahabat lainnya telah merencanakan sesuatu untuk memberikan surprise. terimakasih rere, ayu, bang herman, faisal, hendra, robby dll untuk waktu nya rela-rela keluar tengah malem dateng kekosan buat ngerayain ulang tahun aku ...

kesesokan harinya ...
mama dan adek menelpon dan mengucapkan "Selamat Ulang Tahun Mbak" (beserta doa yang panjang lebar) ...

selain hal diatas banyak surprise berdatangan ...
satu minggu setelah hari sebenarnya ulang tahun, teman-teman organisasi yang memberikan surprise yang sama sekali tiidak terduga, berbarengan dengan perayaan ulang tahun indah dan kak debby yang juga telah berlalu, alhasil ini beberapa jepretaan dokumentasi perayaannya ...


satu hari berikutnya, keluarga kecil di kementrian tempat aku mengabdi saat ini yaitu KPK dan sahabat lainnya yang juga memberikan surprise dan juga tidak dapat diduga, terimakasih emak (novi sri septi), acha, mbak ririn dan lail-lain ...

dua hari berikutnya, orang-orang hebat lainnya juga memberikan aku kejutan dan mungkin ini sangat menyiksa, awalnya mau mengantar seseorang  sahabat ke bandara, karena pada sore hari itu ia akan pergi keboston. sudah direcanakan jauh hari. namun sikap jahil dari keluarga kecilku lainnya tak disangka begitu kejam hahahah, niatnya cuma diajak rapat buat konsep agenda hari bumi. keluarga kecil ini dipertemukan dalam suatu ruang lingkup sebagai sobat bumi indonesia. mereka begitu konyol begadang sampai pagi, hang out bareng ga jelas, masak-masak semaunya dan beberapa hal lainnya. sudah lumayan banyak goresan cerita bersama mereka. mereka juga yang beberapa waktu ini, memberikan senyuman, berkolaborasi sama anak-anak himpunan jurusan, dengan teganya, melakukan hal seperti ini ...

  • diikat dipohon
  • dilempar telor, terigu, air comberan, kopi, syrup dll
  • didandanin jadi peri hutan
  • ditinggal sendirian kayak orang gila disaat hujan deres
  • diceburin kecomberan
     
     
     
     
     
     
    lengkap sudah bukan? setelah penderitaan penyiksaan tersebut. tanpa muka bersalah lilin dinyalakan prosesi dilanjutkan, wkwkwk ....

                 terimakasih partner, boyot, danu, ical, kemit, selfi dll ..


yang lebih parah lagi perayaan ulang tahun setelah 3 bulan dari hari lahir aku. semua dilakukan oleh sahabat-sahabat dikelas, mereka yang saat ini sebagai teman untuk berbagi dan juga melakukan kekonyolan, perayaan kali ini bareng sama perayaan ulang tahun diosi yang malah lebih kacau lewat 4 bulan dari hari lahirnya, entah apa yang menjadi pikiran makhluk-makhluk aneh (mutik, debby, fendra) ckckck ...
"God, very Alhamdulillah about this all, and i hope they can always stay beside me ..."

sekali lagi aku bersyukur bisa mengenal kalian semua, terimakasih untuk segala sesuatunya, sayang kalian, semoga hubungan silahturahmi ini akan awet sampai kapanpun, aminn ya Rabb ...

dalam hening sepi aku merindu, merindukan sesuatu yanng dulu pernah ada. bukan tidak bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan olehnya-Nya namun memang terasa tidak lengkap cerita ini tanpa ada goresan cerita lainnya, yang dulu pernah menuliskan kisah.

sederhana saja ada beberapa yang aku harap mereka mengingat namun hal itu hanya sekedar harapan semu belaka ...
aku telah mengalah terhadap ego ini, tetapi tetap saja, piring yang retak tidak akan kembali seperti semula, aku berharap mereka ada ...
dari 7 orang yang aku harap memberikan kabar hanya 3 orang yang mungkin mengingatnya. dan itu terkesan biasa meski berupa tulisan ...
tapi aku tidak boleh egois bukan? mungkin saja ada sesuatu hal yang penting , dan menjadi skala prioritas mereka saat ini sehingga tidak dapat memberikan ucapan singkat dsb di hari bahagia ini. kembali lagi aku merasa terasingkan ketika bersama mereka saat ini. yang aku tahu sampai detik ini aku tetap menyayangi mereka, mencintai mereka, dan aku selalu berharap suatu saat aku dapat menuliskan kembali kisah dan menggoreskan pena untuk cerita yang abadi di kemudian hari ...

"Sebelum kita sejauh matahari, kita pernah sedekat nadi ..."

Salam Rindu teruntuk orang-orang hebat tersayang yang dulu pernah memberikan senyuman terindah ...
Andita Apriyani (mak goreng)
Annisa Putri Amelia (mbak nisa)
Dede Santa Luvita Pakpahan (taplak)
Ganis Mahesa Putra (autis)
Neni Triana (nenek)
Radisty Noorfizir (moku)
Riska Alvionita (keteng)

Kamis, 19 Februari 2015

Mereka? Ilmu dan Cinta Untuk Anak Negeri


aku belajar dan tersenyum dari mereka, mereka yang begitu tangguh, yang selalu menguatkan jiwa ini untuk terus berjuang meraih mimpi :)

Oleh : Sherly Damayanti (Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya)


Pendidikan adalah induk semang kebudayaan, ketika suatu Negara memiliki kualitas pendidikan yang baik maka akan berdampak pada peningkatan segala sektor lain seperti ekonomi, pembangunan, kesehatan, pertanian, dan lain-lain. Negara kita Indonesia sebagaimana termaktub dalam UUD 1945 akan menjamin pendidikan anak bangsa, seperti tercantum pada pasal 31 ayat 1 dan 2 bahwa: “setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan dan setiap warga Negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) nyatanya belum mampu mengentaskan masalah pendidikan itu sendiri.

Sebagai agen perubahan, mahasiswa bertindak bukan ibarat pahlawan yang datang ke sebuah negeri lalu dengan gagahnya mengusir penjahat-penjahat dan dengan gagah pula sang pahlawan pergi dari daerah tersebut diiringi tepuk tangan penduduk setempat. Dalam artian tidak hanya menjadi penggagas perubahan, melainkan menjadi objek atau pelaku dari perubahan tersebut. Sikap kritis mahasiswa sering membuat sebuah perubahan besar dan membuat para pemimpin yang tidak berkompeten menjadi gerah dan cemas. Sadar atau tidak, telah banyak pembodohan dan ketidakadilan yang dilakukan oleh pemimpin bangsa ini. sebagai mahasiswa seharusnya berpikir untuk mengembalikan dan mengubah semua ini. Perubahan yang dimaksud tentu perubahan kearah yang positif dan tidak menghilangkan jati diri sebagai mahasiswa dan Bangsa Indonesia. Namun untuk mengubah sebuah negara, hal utama yang harus dirubah terlebih dahulu adalah diri sendiri.

Peran sentral perjuangan Mahasiswa sebagai kaum intelektualitas muda memberi secercah sinar harapan untuk bisa memperbaiki dan memberi perubahan-perubahan positif di negeri ini. Tidak dipungkiri, bahwa perubahan memang tidak bisa dipisahkan dan telah menjadi sinkronisasi yang mendarah daging dari tubuh dan jiwa para mahasiswa. Dari mahasiswa dan pemudalah selaku pewaris peradaban munculnya berbagai gerakan-gerakan perubahan positif yang luar biasa dalam lembar sejarah kemajuan sebuah bangsa dan negara.

Unsri mengajar adalah salah satu implementasi tiga dasar pendidikan tinggi yaitu pengabdian. Yang mana di unsri mengajarlah inilah tempat para mahasiswa ikhlas dalam berbakti dan mengabdi kepada masyarakat. Ditengah banyaknya program pemerintah yang digulirkan mengenai pendidikan akan tapi masih banyak kaum-kaum marginal yang dari segi pendidikan dan ekonomi mereka masih jauh dari kata tersentuh oleh indahnya program-program pemerintah tersebut. Maka dari itu unsri mengajar ingin menjangkau keterbataasan pendidikan bagi anak-anak yang belum berkesempatan mendapatkannya dan sebagai aplikasi dari tugas mahasiswa yakni agen of change.

Berawal dari kegiatan Bina Desa Program Kreativitas  Mahasiswa Pengabdian Masyarakat muncul ide untuk membentuk suatu program kerja Mengajar di salah satu Departemen Organisasi Mahasiswa. Dimana hal ini dilakukan karena realita lapangan kehidupan masyarkat di desa binaan tersebut jauh dan tak tersentuh. kebijakan pemerintah belum seutuhnya menyentuh masalah utama yang ada di masyarakat. Desa binaan unsri mengajar desa Tanjung Seteko tingkat pendidikan yang rendah serta angka putus sekolah masih tergolong tinggi. Padahal keberadaan desa Tanjung Seteko yang merupakan daerah terluas di indralaya dengan luas 38,20 km2, dekat dengan lokasi pusat pemerintahan kabupaten Ogan Ilir yang hanya berjarak 5 km, berjarak dari pusat pendidikan tinggi Universitas sriwijaya sejauh 1.5 km, tidak mendapat perhatian khusus baik dari pendidikan, dan insfratruktur. Hal ini diperparah dengan belum masuknya akses listrik sehingga membuat para siswa sulit untuk menggali ilmu pengetahuan di malam hari padahal indralaya memiliki pembangkit listrik berkapasitas 40 MW.  Serta jauhnya letak Bangunan pendidikan dari jangkauan mereka.

Hampir tiga tahun bersama mereka, menyatu dalam kehidupan mereka yang penuh dengan keterbatasan. Ada kebahagian tersendiri yang tak pernah bisa diungkapkan dengan kata-kata, senyuman mereka yang selalu tersirat mengatakan “Tenanglah tak ada yang harus dikhawatirkan” bertolak belakang dengan situasi dan kondisi yang sebenarnya. Bersama mereka belajar  berjuang hidup dalam keterbatasan. Maka dari itu, Unsri mengajar membentuk wadah dan strktural sendiri agar lebih leluasa dalam melakukan pergerakan dimana apabila tetap bertahan sebagai program kerja dalam Departemen Organisasi Mahasiswa tersebut tentunya akan banyak halangan birokrasi yang rumit.

Setelah adanya kesepakatan dengan organisasi tertinggi Mahasiswa yang menaungi Unsri mengajar itu sendiri, saat ini Unsri Mengajar merupakan bentuk Badan Semi Otonom yang diberikan kekuasaan untuk mengambil keputusan, sehingga leluasa bergerak tanpa hambatan dari birokrasi kampus. Unsri mengajar tidak serta-merta hanya kegiatan belajar mengajar saja, tetapi ada beberapa program kerja lainnya yang dilakukan seperti Bazar baju murah, Gerakan satu barang sejuta senyuman sebagai wadah Pendanaan bagi Unsri mengajar, karena setelah resmi menjadi Badan Semi Otonom, Unsri mengajar terlepas dari pendanaan Kegiatan Kemahasiswaan Kampus. Sehingga untuk terus berjalan Unsri mengajar harus Mandiri dalam Pendanaan. Selain itu ada kegiatan-kegiatan lainnya seperti, Gerakan Sehat Sehari sebagai kegiatan untuk perbaikan gizi anak-anak dalam ruang lingkup Unsri Mengajar. Dan ada satu kegiatan yang sedang dalam proses yaitu Gerakan Orang Tua Asuh, merupakan Gerakan Pencarian dan Penghimpun donasi untuk biaya hidup dan pendidikan dengan tujuan mengurangi angka putus sekolah serta meningkatkan kualitas pendidikan bagi anak-anak didik Unsri Mengajar. Dengan harapan bahwa melalui Gerakan Orang Tua Asuh ini, bisa menjadi langkah awal untuk mencerdasarkan anak-anak bangsa khususnya di Desa Tanjung Seteko dan panti asuahan Al Ali. Pola pengasuhan dalam program ini diartikan sebagai pemberian jaminan biaya pendidikan bagi anak-anak yatim dan pelajar dari keluarga kurang mampu (dhuafa) sekaligus membangun “ikatan kasih sayang” antara anak asuh dan orang tua asuh melalui berbagai saluran komunikasi secara intensif.

Bila ingin mencari komunitas gerakan mahasiswa yang mengabdi tanpa pamrih, dan bervisi mencerdaskan bangsa maka unsri mengajarlah tempatnya. Karena di unsri mengajar inilah para mahasiswa sebagai pemuda – pemudi bangsa mengabdikan diri, pemikiran, dan waktunya untuk mau bertanggung jawab atas kualitas generasi bangsa selanjutnya.

Detik Perubahan Bangsa: Antara Aku, Hatta dan Indonesia


menyelami dunia sastra melalui otobiografinya salah satu pahlawan bangsa yang sikap, tindakan bahkan kisahnya layak untuk dijadikan teladan dalam hidup ini .... 

Oleh : Sherly Damayanti (Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya)

Tiadalah Indonesia tanpa andil pemuda di dalamnya, kalimat ini akan terdengar sangat egois jika hanya dipandang dari satu arah saja, namun jika kita coba menengok jauh ke belakang, membuka sedikit pengetahuan kita tentang sejarah perjuangan pemuda sebelum dan sesudah kemerdekaan, tentu bukanlah hal yang naif, kalimat itu untuk kita iya-kan keabsahannya. dimulai dari terbentuknya Budi Utomo, di deklarasikannya Sumpah Pemuda, pergerakan angkatan 1945, sampai pergerakan Reformasi tidak luput dari peran pemuda di dalamnya. Sehingga pemuda selalu menjadi elemen bangsa yang selalu di banggakan karena berperan  penting dalam perubahan Indonesia ke arah yang lebih baik.
Generasi muda saat ini memang butuh disiram air sejuk berlabel inspirasi. Kisah heroik tokoh-tokoh teladan perlu diangkat ke permukaan. Selain untuk meretas optimisme baru, juga untuk menyembul harapan ke muka mereka. Para pemuda harus menyadari bahwa laju nasib bangsa ini ada di tangan mereka: apakah melaju ke depan, ke belakang, atau justru stagnan. Jiwa mereka juga harus dihujani dengan optimisme dan kemantapan hati. Meneladani kepemimpinan bapak bangsa akan membuat anak-anak muda makin yakin dengan tongkat perjuangan yang sedang mereka pegang. Menilik kisah para pendiri bangsa memang serupa oase di tengah geger psimisme. Teladan yang lahir dari seorang Soekarno, Hatta, dan Kartini diharapkan dapat menumpas kegelapan dan melukis ribuan inspirasi di benak generasi muda.
Sejarah Indonesia adalah sejarah pemudanya (Ben Anderson)
Pemuda Indonesia memiliki daftar panjang masalah adalah sesuatu yang tak terbantahkan. Mereka bak menara gading—menjulang tinggi tanpa mengakar kuat—.  Publik dibuat terkesiap karena aksi-aksinya yang tidak lagi melejitkan capaian. Aksi man on the street para mahasiswa yang menuntut pemerintah berhenti menindas rakyat ternyata malah menyengsarakan rakyat: membakar ban, menyandera kendaraan, merusak fasilitas umum, membuat jalan macet. Aksi demo kenaikan harga BBM adalah contoh yang tepat. Perangai generasi muda juga terjerembab dalam kawah yang tidak ketimuran. Kaum muda Indonesia sebagai driver futuritas bangsa harus kembali pada fitrah kepemudaannya. Generasi muda harus mampu meruwat lagi mimpi-mimpi Indonesia dan menerjemahkannya dalam bahasa yang nyata. Sesegera mungkin menjelma menjadi manusia Indonesia seutuhnya. Manusia Indonesia yang diliputi dengan kesiapan untuk tumbuh dalam kesulitan, siap menghadapi risiko, dan mampu memecahkan tantangan-tantangan. Manusia Indonesia model begitu dapat kita jumpai dalam sosok salah satu bapak Proklamator seperti Bung Hatta. Lihatlah bagaimana jiwa manusia Indonesia sejati itu melekat dalam diri Beliau. Jiwa itu jugalah yang berhasil menghantarkannya menjadi pemimpin yang disegani di Indonesia bahkan di dunia.
Bung Hatta salah satu tokoh Proklamotor kita dan sosok yang selalu hidup dalam keserdehanaan dan jauh dari pengaruh ingin memanfaatkan ketokohan  serta kekuasaan yang dimiliki buat kepentingan pribadi dan keluarga. DR(HC) Drs.H.Mohammad Hatta dilahirkan di Bukittinggi Sumatera Barat pada 12 Agustus 1902. Terlahir dengan nama Mohammad Athar .Bung Hatta juga kita kenal sebagai seorang diplomat, negarawan, bapak Koperasi, wakil Presiden I R.I. Sikap beliau yang dikagumi banyak orang adalah sangat sederhana, jujur, santun, hemat. Hidup beliau benar-benar dibaktikan buat kepentingan bangsa dan negara. Penjara sudah tak terhitung kalinya beliau rasakan dalam memperjuangkan bangsa dan negara dari kekuasaan penjajah bersama Soekarno. Bung Hatta selalu berusaha melakukan yang terbaik dalam segala hal, misalnya dengan bersikap hati-hati dan melakukan perencanaan yang matang. Semua tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dilakukan dengan sepenuh hati, dan direncanakannya dengan sebaik mungkin agar memperoleh hasil yang maksimal.
Layaknya seorang yang jatuh cinta, aku begitu benar-benar menganggumi apa yang telah dilakukan Bung Hatta. Terutama sikap kesederhanaan dan diplomatik beliau. Dunia perkuliahan mampu membuat aku terjerembab dalam dilematika apa itu yang menjadi peran Mahasiswa. Menjadi agent of change, iron stock, dan control social, terkadang membuat sosok diri ini ambigu untuk melangkah. Begitu banyak generasi yang acuh akan kehidupan bangsa saat ini, tak perlu jauh hidup dikalangan mahasiswa elite, dan glamour yang selama ini mindset banyak orang tentang Fakultas Ekonomi. Membuat aku terkesima dan menyatakan aku tak mampu seperti itu. Namun disiplin ilmu itu merupakan apa yang menjadi cita-citaku sejak kecil. Bertahan dengan ruang lingkup yang sebenarnya tak mampu aku mengarunginya. sebuah komitmen dan mimpi yang mebuat aku tetap bertahan, tekad yang kuat untuk mengubah mindset kebanyakan orang itu, bahwa tak semua mahasiswa ekonomi seperti apa yang mereka pikirkan. Buktinya aku mampu menjadi mahasiswa yang aktif dan berprestasi dikampus, dan Alhamdulillah mampu menjadi teman bagi mereka, meski dengan pakaian dan kehidupan yang apa adanya. Tak perlu menjadi orang lain, hanya tetap menjadi diri sendiri aku membuktikan semuanya. Selain itu, dalam organisasi. Bukan hal awam tentang Aksi turun kejalan, kadang kala tindakan tersebut tak sesuai dengan batin ini, terkadang logika dan hati bertarung, bergejolak menentang akan hal itu. Entahlah aku selalu berfikir hal tersebut adalah tindakan sia – sia yang semakin merusak  citra apa yang dinamakan Mahasiswa, apakah hal tersebut harus tetap dilakukan? Tidak ada jalan lain?  Aku membuktikan tanpa turun kejalan permasalahan dapat diselesaikan. Bukankah Bung Hatta yang lembut hati, selalu mencari strategi untuk berjuang tanpa kekerasan. Senjata ampuh yang digunakan tokoh proklamator kita ini adalah otak dan pena. Dari pada melawan dengan kekerasan beliau lebih memilih untuk menyusun strategi, melakukan negosiasi, lobbying, dan menulis berbagai artikel dan buku untuk memperjuangkan nasib bangsa. Prinsip tanpa kekerasan ini muncul karena rasa hormat Bung Hatta pada sesama manusia, baik kawan atau pun lawan. Walaupun Bung Hatta tidak setuju dengan pendapat atau pun seseorang, beliau tidak lalu membenci orang tersebut, tetapi tindakan dan pendapatnyalah yang tidak beliau setujui. Misalnya saja, Bung Hatta yang sangat kuat keteguhan beragamanya tidak menyukai hal-hal yang berbau duniawi yang pada saat itu umumnya berasal dari negeri seberang. Tapi bukan berarti dia lalu membenci orang-orang asing. Beliau memiliki banyak teman bangsa asing dan banyak pemikiran bangsa asing yang positif (disiplin, etos kerja positif) yang beliau adaptasi untuk kemajuan bangsa. Sikap ini menyebabkan Bung Hatta dihormati oleh semua orang: kawan atau pun lawan.

Walaupun Bung Hatta sudah tiada, beliau tetap hidup melalui pemikiran, prinsip, dan kualitas pribadi beliau yang positif. sudah selayaknyalah kita teladani sisi positif kualitas kepemimpinan beliau yang berpegang teguh pada prinsip, berjuang tanpa kekerasan, berusaha melakukan yang terbaik, dan senantiasa berkarya untuk kepentingan bangsa. Merdeka!

Referensi:
Hatta, Mohammad, Membangun Ekonomi Indonesia, Jakarta : Inti Idayu Press,
                                1998.
Hatta, Mohammad, Mendayung Di Antara Dua Karang, Jakarta : Kementrian
                                Republik Indonesia, 1948.
Hatta, Mohammad, Untuk Negeriku,  Jakarta, Kompas, 2011
 06 November 2012, 05.13, diakses 03 Januari 2015, 22.10.


DETIK PERUBAHAN BANGSA, PERAN PEMUDA MENJAWAB TANTANGAN AEC 2015 DALAM SEKTOR SOSIAL DAN EKONOMI


ini essay telat ngepostnya, dibuat saat ikut seleksi Pelatihan Pemimpin Bangsa 8 (PPB#8) di Yogyakarta, dan Alhamdulillah Lolos ....

Oleh Sherly Damayanti
Globalisasi merupakan suatu bentuk proses skala kehidupan yang multidimensional dari perwujudan lokal yang kemudian nasional ke skala yang baru (internasional). Gagasan utama dari globalisasi ialah membuat dunia menjadi seragam dalam segala aspek, baik dalam aspek ekonomi, sosial, budaya maupun ilmu pengetahuan. Salah satu pengaruh dari adanya globalisasi ini adalah dengan banyak munculnya rezim internasional atau lembaga internasional.
The Association of South East Asian Nations (ASEAN) yang telah berusia lebih dari empat dekade, dari tahun ke tahun berusaha meningkatkan integrasi kerjasama antar negara anggota ASEAN. Cetak biru (blueprint) tentang pembentukan Masyarakat ASEAN yang salah satunya berpilar pada ekonomi, yaitu ASEAN Economic Community (AEC), telah disepakati oleh negara anggota ASEAN dalam Bali Concord II tahun 2003. ASEAN Economic Community merupakan sebuah komunitas negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN demi terwujudnya ekonomi yang terintegrasi. Negara – negara yang tergabung dalam AEC memberlakukan system single market dalam artian terbuka untuk melakukan perdagangan barang, jasa, investasi, modal dan tenaga kerja. AEC direncanakan terbentuk pada tahun 2015. Terbentuknya AEC yang direncanakan terwujud pada tahun 2015, memiliki masalah dan tantangan sendiri bagi negara yang berada di kawasan Asia Tenggara.
Tantangan utama dari bangsa Indonesia sekarang adalah Sumber Daya Manusia yang mampu untuk mencapai visi 2025 dan bagaimana mempersiapkan stabilitas ekonomi, politik dan daya saing untuk menghadapi AEC 2015. SDM yang dianggap sebagai pilar utama dalam menghadapi arus globalisasi kedepannya diharapkan dari mahasiswa. Mahasiswa harus mengubah mindset, bahwa sejak AEC diberlakukan mereka bukan sekadar warga Indonesia, tapi menjadi bagian warga dunia yang harus mampu sejajar dan tidak kalah disandingkan dengan Myanmar, Thailand, Malaysia, Singapura, Brunai Darussalam, Philipina, Laos, Kamboja, dan Vietnam. Dalam menjawab tantangan kompetensi global, mahasiswa perlu membekali diri dengan beberapa hal yakni kompetitif “hard skills” dan “soft skills”, mampu berkolaborasi dengan mahasiswa ASEAN lain dengan riset bersama untuk menghasilkan karya-karya bermutu. Serta mampu menjadi pelopor di dalam menjaga kedaulatan bangsa dan negara di bidang ekonomi dengan menjadi job creator bukan job seeker.
Mahasiswa dengan fungsi triangular role yaitu sebagai agent of change, social control dan iron stock, dapat menjadi perantara antara pemerintah, pelaku bisnis dan akademisi (ABGs) dengan masyarakat bawah untuk menerjemahkan kebijakan pemerintah, kebutuhan pelaku bisnis dan hasil-hasil penelitian dari akademisi baik dalam bentuk pengabdian masyarakat maupun dalam bentuk pengajaran kepada masyarakat. Di sinilah peran penting mahasiswa untuk memberikan pemahaman tentang perkembangan global (AEC 2015) kapada masyarakat lapisan bawah dengan tingkat pendidikan yang masih rendah. Mahasiswa dianggap sebagai kaum terdidik yang mampu menjadi penggagas sekaligus penggerak perubahan dalam kehidupan sosial. Peran mahasiswa bukan hanya pada aspek sosial yang menjadi penggerak perubahan kehidupan sosial akan tetapi mahasiswa juga turut berperan dalam perputaran aspek ekonomi termasuk dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN. Kolaborasi yang dilakukan adalah kolaborasi antar pemuda se-Asia Tenggara yang menggunakan intelektualitasnya. Melalui intelektualitas ini yang dilihat tentunya adalah kecerdasan dan penguasaan wawasan keilmuan. Ilmu dan wawasan yang dimiliki selain akan memperluas cakrawala pandangan, juga memberikan bekal teoritis maupun praktis dalam pemecahan suatu masalah. Sebagai generasi muda, tentunya para pemuda ASEAN ini merupakan ladang utama orang-orang yang mempunyai daya kreatif tinggi. Pemuda yang berilmu penggetahuan luas menyukai hal-hal baru, bersemangat juang tinggi, berpikiran kritis, dan berkepedulian sosial yang tinggi, ini merupakan agen yang mampu mengembangkan perekonomian di negara-negara ASEAN. Pemuda (mahasiswa) yang telah berani berwirausaha membuktikan bahwa usaha yang dilakukan mereka dapat membuahkan hasil yang manis karena selain menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain, menambah pengalaman diri sendiri, juga dapat memotivasi para pemuda lain untuk melakukan hal yang sama. Sebagai elemen bangsa dengan potensi pemikirannya tentu besar sekali peran dan fungsinya, misalnya dengan mengadakan penelitian-penelitian, membuat karya tulis di berbagai media, atau seminar-seminar dalam rangka mencari solusi bagi bangsa dan negara untuk menuju kesuksean ASEAN Economic Community 2015.
Dengan adanya penelitian yang dilakukan oleh pemuda (mahasiswa) diharapkan mampu membantu pemerintah maupun masyarakat umum baik kalangan pebisnis yang mempunyai andil cukup besar dalam perekonomian AEC maupun bagi masyarakat umum ASEAN untuk mengetahui hal apa saja yang perlu dibenahi baik dari segi infrastruktur maupun suprastruktur. Penelitian ini tentunya akan sangat bermanfaat bagi pemerintah itu sendiri karena adanya keterbatasan waktu yang menyebabkan pemeritah belum mampu secara rinci  untuk mengetahui apa-apa saja yang diperlukan oleh masyarakat dalam menghadapi AEC terutama bagi masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Selain itu nantinya pemuda juga akan menjadi pengontrol pemerintah dalam melakukan suatu kebijakan, selain itu pemuda diharapkan kemudian mampu untuk memberikan masukan-masukan dari atas penelitiannya itu terhadap pemerintah.
Peran lain yang tidak kalah penting yang harus diselesaikan mahasiswa adalah mempunyai spesialisasi dari pribadi masing-masing. Spesialisasi mahasiswa akan menjadi jawaban tentang tantangan untuk menghadapi arus global akibat teknologi infomasi yang berkembang pesat. Revolusi teknologi informasi inilah yang menjadikan pembuktian nyata kita bukan lagi hanya sebagai warga Indonesia tetapi kita adalah warga dunia. AEC 2015 datang sebagai peluang dan sekaligus sebagai tantangan bagi kita. Akankah kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri atau menjadi pemain sebagai host country dengan adanya AEC 2015 ?