Sabtu, 20 Juni 2015

Sedang Menuju Kesini :)


Ia sedang bersiap, entah memersiapkan apa. Aku tidak tahu. Aku hanya tahu bila ia sedang bersiap. Aku juga akan bersiap.

Ia datang dari jauh, entah dari mana aku tidak tahu. Yang pasti, dia datang dari jauh. Buktinya kami belum juga bertemu meski waktu sudah bertahun berlalu.

Ia pasti orang baik. Aku yakin dia orang baik. Karena aku juga pasti menolak orang yang tidak baik, setidaknya dalam batas pengetahuanku tentangnya.

Ia pasti sedang berdoa. Entah apa yang dia doakan. Aku merasa sedang berusaha mewujudkan doanya itu. Belajar menjadi orang baik, mencari ilmu tentang segala sesuatu untuk hari nanti. Bersiap diri. Belajar ini dan itu. Agar ketika ia datang, ia takjub karena doa-doanya menjadi kenyataan dalam diriku.

Ia pasti sedang menuju ke sini. Aku tidak tahu sudah sampai mana perjalanannya. Tapi aku percaya, ia sedang ke sini.

Hallo, Apa Kabar disini aku masih menantimu. Ujarnya ...

Jumat, 19 Juni 2015

Karena apa (?) ...



Kira-kira apa yang membuatmu cinta? Aku penasaran ingin tahu. Aku tidak baik, menurutku sih ...

Aku bulat, kata orang banyak begitu. Legam. Tidak lebih menarik dengan orang lain di luar sana. Aku tidak suka memakai pakaian terkini. Aku ya seperti ini. Aku berantakan. Kira-kira apa yang membuatmu cinta?

Aku tidak suka membaca buku seperti kamu. Aku juga  suka melakukan perjalanan menyeramkan. Bagiku naik gunung itu adalah pembelajaran. keras kepala. Kira-kira apa yang membuatmu cinta?
Agamaku pun belum begitu baik. Aku tidak sebaik dirimu dalam hal ini. Tidak serutin kamu membaca kitab suci. Tidak sepandai kamu menjaga pergaulan. Aku masih bersalaman dengan lawan jenis. Sementara kamu, begitu santun menjaga diri. Aku tidak mengerti. Kira-kira apa yang membuatmu cinta?
Aku tidak lemah lembut. Kata-kataku keras. Begitu egois. Aku tidak tahu. Kira-kira apa yang membuatmu cinta?

Aku tidak suka kopi. Tentu tidak bisa menemanimu minum kopi seperti keseharianmu. Lebih dari itu, aku mungkin tidak bisa menemanimu minum kopi kesukaanmu sambil membaca buku. Ah, aneh. Kira-kira apa yang membuatmu cinta?

Lalu apa katamu tadi, “Aku tidak sedang mencari teman minum kopi atau membaca buku. Aku mencari teman hidup di dunia dan akhirat. Seseorang yang bisa bersama menuju-Nya. Dan aku tidak peduli dengan yang selain itu”.

Sungguh, Ah aku tidak mengerti kata-katamu.

Kamis, 18 Juni 2015

Mencari Ketenangan (?)


Hidupnya begitu riuh, begitu ramai. Pikirannya tidak pernah habis memikirkan banyak hal, hidupnya disibukkan oleh begitu banyak pekerjaan. Seolah-olah waktunya habis untuk segala hal itu. Harus menjadi berbeda, hidup dalam ekspektasi banyak orang. Hingga, setiap kali dia kembali ke rumahnya yang sepi, ke kamarnya yang lebih sepi, ke hatinya yang jauh lebih sepi. Dia hanya duduk, membuka beberapa lembar catatannya dan menulis sesuatu yang tak pernah aku tahu apa isinya.

Selebihnya, dia merebahkan badannya dan memejamkan mata. Seolah-olah itulah ketenangan yang selama ini dia cari. Nyatanya bukan, pikirannya tetap riuh dengan pertanyaan, hatinya tetap khawatir dengan kemungkinan.

Dia memasang headset ditelinganya dan memutar lagu-lagu yang dia ciptakan sendiri. Dia buka kitab sucinya untuk mencari-cari sesuatu. Dia mencari ketenangan. Sedang dia sendiri tidak pernah tahu bagaimana dan seperti apa ketenangan yang dia maksud.

Di luar sana dia menenggelamkan diri dalam kegiatan, sibuk mendaftar ini dan itu, menjadi relawan ini dan itu, berharap bisa menemukan ketenangan itu di salah satu tempat yang dia datangi. Tapi, ternyata tidak demikian. Hatinya tetap tidak tenang. Bahkan, ibadah pun belum membuatnya tenang.

Dia terus berjalan, ia sudah mengenal dengan baik kelelahan, kekhawatiran, kegelisahan, ketakutan. Semua
itu telah menjadi teman perjalanan yang tidak lagi mengkhawatirkan.

Karena hanya orang-orang yang mencarilah yang akan menemukan. Dia terus mencari ketenangan. Apabila ketenangan itu berwujud seorang manusia, maka pertemukan dan persatukanlah. Bila ketenganan itu berwujud rumah, maka dirikanlah. Bila ketenangan itu berwujud ibadah, maka teguhkanlah.

Dia melanjutkan perjalanan hidupnya yang sunyi.


Rabu, 17 Juni 2015

Dengan Cara (Kita) Sendiri

Kita akan (saling) jatuh cinta dengan cara kita sendiri. Tidak Peduli orang lain mau berkata apa, kita menikmati setiap waktu yang membuat jarak semakin dekat. kita akan jatuh cinta dengan cara kita sendiri. bukan dengan banyaknya pesan yang dikirim, bukan pula dengan banyaknya bunga yang diberikan. apalagi sekedar ucapan salam. tidak ada semua itu ...

kita akan saling jatuh cinta dengan cara kita sendiri. dengan buku yang sama, yang kita baca. dengan tulisan yang sama, yang kita tulis.dengan tidak memberi tahu satu sama lain bahwa masing-masing kita sedang sibuk berdoa. kita akan saling jatuh cinta dengan cara kita sendiri. Tidak ada pertemuan yang sering, tidak ada telepon yang berdering. Tidak ada semua itu ...

kita saling jatuh cinta dengan cara kita sendiri. dengan menulis catatan perjalanan rasa yang masing-masing kita miliki. tidak bisa diterjemahkan oleh orang lain selain kita sendiri. tidak akan dipahami maknanya kecuali oleh kita sendiri. dan kita bahagia karena ternyata kita jatuh cinta dengan cara yang aman.

kita akan saling jatuh cinta dengan cara kita sendiri. tanpa memberi tahunya, tanpa pernah menyebut namanya didepan orang lain, dan kita akan tetap berjalan dengan cara kita sendiri. tidak peduli orang mau bilang apa. kita menikmati setiap kali kita jatuh, setiap kali kita merasa aman bahwa cinta kita jatuh pada orang yang tepat.









                    

special for you ...

Selasa, 16 Juni 2015

I will always stay beside you and will always love you


Kita tidak perlu mengisi hidup orang lain bila ia memang tidak mau diisi, mungkin hatinya sudah penuh. Kita dengan sendirinya akan mengisi hidup orang-orang yang masih kosong. Dengan kita menjadi orang baik, dengan kita berbuat baik, dengan kita berlaku yang santun, menjadi orang yang ikhlas, dengan sendirinya orang lain akan menempatkan kita dalam posisi-posisi tertentu dalam hidupnya. Diberikan ruang dalam hatinya tanpa kita minta.

Kita cukup menjadi orang yang peduli, orang yang melakukan sesuatu tanpa mengharap sesuatu dari orang lain. Kita menjadi orang yang tulus. Tidak masalah dengan penolakan. Karena memang akan selalu ada orang yang tidak bisa menerima kita hadir dalam hidupnya karena alasan tertentu yang kita tidak tahu, tapi itu bukan sesuatu yang perlu kita salahkan.

Kita cukup terus berjalan, dan terus berbuat baik. Karena nanti, akan ada orang yang memberikan kita ruang yang sangat besar dalam hidupnya, ruang yang paling luas dan paling rahasia. Orang itu adalah orang yang nantinya menjadi rumah dimana tempat kita pulang dan tinggal. Karena ia menjadi orang yang paling bisa menerima kita saat kita pulang, seburuk apapun diri kita. Karena dalam ruang hatinya itu, kita menyimpan rahasia-rahasia terbesar dan dia bersedia menyimpan semua itu.

dan semua harapan akan ruang itu, aku selalu berharap dan berdoa adalah kamu ...
sosok yang telah lama, aku hanya mampu menitip harapan dalam diam, dalam ruang yang sunyi ...
mungkin hanya tuhan yang tahu ...

-------------------------------------------

Teruslah mencariku karena aku tidak pernah sembunyi. Kamu hanya sedang menutup mata, sedang teralihkan perhatian. Teruslah mencariku karena aku akan duduk menunggu. Pada sajadah panjang yang membentang dari langit hingga bumi.

Aku tidak pernah sembunyi, kamu hanya tidak berani. Tidak berani datang hanya untuk mengenalkan diri. Tidak apa-apa. Aku akan menunggu dengan buku-buku ditangan. Dan lembar-lembarnya adalah waktu yang telah aku habiskan.

Jangan pernah lelah mencariku, karena aku tidak pernah kemana-kemana. Kamu hanya perlu membuka diri, melihat dengan mata hati.

Aku ada di sini. Sejak lama. Menunggumu menyadari bahwa sebenarnya kamu terlalu jauh mencari.

               i will always stay beside you and will always love you ...

Marhaban Ya Ramadhan (.)



Pada saat menjalani kehidupan kita masing-masing. Mungkin kita pernah berselisih dengan seseorang. Pernah menyimpan kekesalan dan kekecewaan. Pernah merasa dikhianati atau ditinggalkan tanpa alasan. Pernah dibohongi bahkan mungkin dijauhi. Hingga hubungan kita dengan orang tersebut sempat hilang beberapa lama, mungkin dalam hitungan tahun.

Dulu sewaktu muda terutama. Sewaktu emosi masih pada tahap pematangan. Sewaktu pikiran belum sepenuhnya berpijak. Sebelum kebijaksanaan hidup menghampiri. Sewaktu logika masih pendek. Sewaktu perasaan masih mendominasi.

Hingga pada suatu ketika, direntang waktu yang cukup lama kita kembali dipertemukan dengan orang-orang tersebut. Sejatinya kita tidak lagi benci, hanya sungkan saja ingin menyapa. Ada perasaan tidak enak. Ada perasaan enggan.

Saya percaya bahwa waktu turut mengubah seseorang. Orang yang dulu berbuat tidak baik kepada kita telah berubah. Orang yang dulu meninggalkan kita telah berubah. Orang yang dulu menyakiti kita telah berubah. Banyak yang telah menjadi orang baik, diantara mereka banyak yang telah menjadi bijaksana. Diantara mereka banyak yang telah mencapai banyak hal sementara kita sendiri tertinggal jauh.

Haruskah kita tetap membencinya? Mungkin perasaan ini bukanlah benci, hanya enggan untuk menyambung silaturahmi. Atau mungkin malu mengakui bahwa kita telah memaafkannya dan memulai silaturahmi.

Mereka adalah orang-orang yang berhasil belajar dari kesalahan. Kita tidak lagi bisa menyamakan mereka dengan beberapa tahun belakangan. Ketika dulu mereka membuat kesalahan, terutama kepada kita. Mereka adalah orang-orang yang berhasil keluar dari pikiran mereka tentang masalahnya. Bergerak sedemikian cepat untuk memperbaiki diri. Sementara kita mungkin masih menyimpan dengki, membuat kita terkurung pada prasangka tersebut dan menjadi lamban bergerak.

Harus kita akui. Memang mereka memiliki kesalahan kepada kita di masa sebelumnya. Ketika kita masih sama-sama muda, sama-sama emosional. Dan mereka telah belajar dari kesalahan sehingga membentuk mereka yang seperti sekarang. Begitu mengagumkan. Dan kita sungguh tidak bisa menilai mereka hanya karena kesalahannya di masa lalu kepada kita.

Ketika kita mampu menyadari itu semua. Kita telah belajar menjadi selangkah bijaksana. Memaafkan dan mengakui bahwa kita tidak belajar lebih banyak dari mereka. Dan kita tertinggal beberapa langkah.


Marhaban ya Ramadhan ...
Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin :)
(?)

Sabtu, 13 Juni 2015

entah itu (kamu) [!]



Aku ingin mencintaimu seperti kala kita belum bersatu,
dimana setiap malamku aku duduk mengadu
Tentang perasaan yang tak kunjung bertemu,
tentang kepastian yang saling tunggu.

Perasaan yang sama tidak serta merta membuat dua orang bersatu,
karena setiap perasaan memerlukan kepastian
memerlukan kesaksian, memerlukan ikatan.

Ku kira diantara kita ada jarak,
Kau tahu sebarapa jauh jarak diantara kita?
Hanya sebaris kalimat dan sebaris jawab.


“Aku mencintaimu dan aku mau mewujudkannya dalam tindakan”.
“Tidak usah,” katamu menolak tawaran.
Lalu, dilain waktu kamu justru resah menanti seseorang yang kamu harap datang. Meski keberadaannya tidak pernah kamu ketahui, bahkan cintanya pun tidak kamu mengerti. Kamu memilih ketidakpastian daripada kepastian. Bukankah selama ini kamu sendiri yang menuntut kepastian?

Ketika kamu mencari kepastian, aku datang menawarkannya. Lalu, kamu justru ragu memberikan kepercayaan. Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya kamu cari.

Di lain hari kamu resah mencari. Mencari sesuatu yang jauh, sesuatu yang bahkan tidak kamu kenali. Sesuatu yang katanya telah disiapkan Tuhan bahkan sejak kamu belum lahir. Apa kamu tidak pernah bertanya pada diri sendiri bahwa mungkin ia menciptakan kita sebagai takdir itu?

Aku mungkin harus menghilang dari kehidupanmu agar kamu sadar dan menyadari bahwa ada yang hilang dalam hidupmu. Kesadaran yang membuatmu mengerti bahwa ada orang yang memiliki perasaan yang bahkan tidak kamu rasakan. Bahwa ada orang yang mencintaimu kala kamu takut dan bertanya-tanya apakah ada orang yang bisa jatuh cinta padamu.

Saat ini mungkin kita hanya bertemu. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi dikemudian hari. Harapanku dan harapanmu mungkin saja berbeda. Namun, siapa sangka bila ternyata muara kita sama. Aku berdoa seperti itu, entah kamu.